Tulisan ini berkaitan tentang kegalauan saya. Sering kali saya bertanya dalam diri saya, "Apakah passion saya ada di dunia public speaking?"

Pas remaja, saya kepengen jadi public speaker tipe motivator, keren soalnya.. Maklum, dulu banyak ikut seminar motivasi hehehe. Sekarang? Sejak nyemplung ke dunia bisnis, tujuannya udah ngga jadi motivator, tapi entrepreneur yang menginspirasi lewat prestasi. Role model saya adalah Ciputra, Chairul Tandjung, Sandiaga Uno, William Soeyadjaya. Mereka berbicara untuk sharing value bisnis, strategi bisnis & kisah bisnisnya. Saya mau seperti mereka.

Saya memulai karier public speaking dari remaja, mungkin dari usia 14 tahun. Sudah mulai jadi kakak sekolah minggu di Wihara.
Usia 15 tahun saya sudah sering jadi MC dimana mana, mungkin sekitar sampai usia 17 tahun.
Usia 18 tahun saya mulai menjadi public speaker dengan tema bisnis, berbicara soal perjalanan bisnis Men's Republic & strateginya.

Saya mencatat kemana saja saya berbicara, berapa banyak pesertanya, tema apa yang saya bawakan, berapa durasinya. Total, saya sudah berbicara lebih dihadapan 50.000 orang. Puluhan kampus seluruh Indonesia, puluhan institusi, komunitas & organisasi, puluhan perusahaan mulai dari skala UKM sampai multinasional.

Tersirat pertanyaan dalam benak saya, "Are u happy?"
Yes, saya hepii banget kalo abis sharing. Apalagi kalo sharing saya pecah. Apa definisi pecahnya? Penonton antusias, tepuk tangan tanpa diminta, ketawa lepas, banyak bertanya, setelah seminar masih mau nambah lagi, banyak yang say thank you, dan yang paling hepi adalah pada saat mereka praktek ilmunya. Wah hepiiii banget...

Sebagai pembicara bisnis, saya itu kayak kaset rusak hehehe. Kemana mana bawain materi yang sama, cerita perjalanan bisnis Yasa. Kecuali kalau ada yang ngundang untuk kedua kalinya, biasanya akan saya ganti materinya jadi lebih teknis yaitu soal strategi bisnis.

Tentu, jadi pembicara itu uenak. Disambut dengan ramah bak raja, dikasih makanan enak, akomodasi enak, mau ke toilet dianter, diajak keliling kota setempat, selesai sharing banyak yang ngantri foto, jadi idola banyak orang, dan masih dapet bayaran lagi. Kurang enak apa? Saya pun sempat terlena, keenakan jadi pembicara. Dielu-elukan.

Sampai saya sadar, ini bukan gaya saya. Saya adalah risk taker, penuh tantangan, ketidaknyamanan. Dunia pembicara membuat saya terlalu nyaman, keenakan, leha leha. Saya sadar, dunia saya adalah di lapangan arena bisnis yang penuh dengan lika liku, sikut kiri kanan, tekanan, dan masih banyak hal menantang lainnya. Ya, dunia saya disitu.

Kenapa saya berpikir bahwa bisnislah dunia saya sebenarnya?
Karena bisnis yang telah membawa saya menjadi pembicara. Saya hidup dan makan dari bisnis. Saya adalah PEBISNIS yang diundang menjadi pembicara. Bukan pembicara yang mengaku ngaku sebagai pebisnis. Artinya, saya menjadi pembicara hanyalah akibat dari keberhasilan saya membangun bisnis. Jangan sampai saya malah lupa membangun bisnis dan keenakan ngomong kemana mana. Hancur deh bisnisnya..

"Lalu, Yasa masih mau sharing ngga kemana mana?"
Mau kok...
Apakah ada fee nya? Ya dong, ganti waktu saya. Waktu itu mahal. hehehe. Kecuali untuk sosial. Saya tetep mau sharing, saya tetep hepi sharing. Tapi fokus utama saya di bisnis. Jadi mohon maaf kalau ada undangan sharing yang saya tolak, bukan karena ngga mau tapi karena waktu saya dialokasikan untuk bisnis yang utama.
Mungkin persentasenya
80% Bisnis 20% Sharing

Jadi, apakah salah menjadi pembicara? Ngga. Jangan salah tangkep! Sah sah aja dengan profesi pembicara publik, ini masalah pilihan. Belakangan ini saya galau, saya mau kemana ya. Ternyata saya menemukan jawabannya, passion saya adalah berkarya penuh tantangan di dunia bisnis, bukan pembicara.

I am building my empire,
as an Entrepreneur.

Yasa Singgih,
15 Desember 2015