Untitled,
Tentang dunia belajar wirausaha di Indonesia.


Satu hari seorang teman saya yang berusia 30 tahun ke atas berkata seperti ini kepada saya, "Lo beruntung Yas lahir di generasi 90an dan Men's Republic berkembang di era sekarang. Jaman gue semuda lo, dunia entrepreneur itu ngga hidup kayak sekarang"


Sejenak saya berpikir dan mengiyakan pernyataan teman saya tersebut. Entah ini benar atau tidak tapi bagi saya, sekarang semangat entrepreneurship sedang menuju klimaksnya. Di setiap kampus dibikin seminar kewirausahaan, belum lama saya diminta oleh salah satu kampus swasta besar di Jakarta untuk berbagi pengalaman kepada seluruh dosen mata kuliah wirausaha untuk menyusun kurikulum wirausaha pada mata kuliah. Hampir setiap hari saya menerima email yang berisi undangan sebagai pembicara dalam seminar wirausaha. Jika memang waktunya cocok saya akan mengisi, jika tidak saya akan sarankan mereka untuk mengundang teman saya yang wirausaha juga, karena prioritas utama saya mengurus Men's Republic. Disela sela waktu barulah sharing.


Euforia semangat entrepreneur ini menimbulkan beberapa hal. Sosok sosok seperti saya dan teman teman yang dianggap young entrepreneur menjadi "laku dijual" oleh media. Alhasil dimana mana orang tertarik dengan dunia wirausaha. Dimana mana berita tentang saya dan Men's Republic beredar, ada yang infonya benar dan ada yg ngasal. Hehehe. Saya senang senang aja, tapi kadang menjadi beban karena saya dianggap sebagai young entrepreneur yang sudah super sukses padahal masih biasa saja, masih belajar dan bertumbuh terus. 


Di lain pihak semangat wirausaha ini menimbulkan dampak positif dan negatif.
Dampak positifnya yaitu banyaknya anak muda yang ingin terjun ke dunia usaha, demand tersebut akhirnya dipenuhi dengan supply seminar dan buku wirausaha yang menjamur dimana mana. Tentu bagus dan sah sah saja, namun negatifnya ada juga yang dimanfaatkan oleh sebagian orang yang tiba tiba ngaku sebagai wirausaha sukses, ngaku sudah tidak butuh uang lagi karena sudah bebas finansial dan fokus berbagi ilmu wirausaha demi mendidik generasi muda jadi wirausaha padahal sebenarnya menjadikan seminar dan buku wirausaha sebagai sumber income utamanya. Lebih parah lagi, sebenarnya mereka tidak punya usaha sama sekali. Usahanya ya ngajarin ilmu usaha kepada anak anak polos yang ngebet jadi wirausaha. 


Menurut saya, sah sah saja menjual seminar atau buku tentang wirausaha. Bagus jika semakin banyak karena sedikit sekali wirausaha sejati yang bisa transfer ilmu dan pengalaman. Kebanyakan wirausaha kalau diminta sharing malah ngga bisa. Bahkan saya juga setuju jika ilmu itu harus berbayar agar peserta menghargai, saya pun selalu meminta fee setiap kali diundang seminar yang sifatnya komersil. Tujuannya agar peserta dan panitia menghargai dan lebih serius menggodok acara, ngga asal asalan. Beberapa kali saya kasih gratis malah acaranya asal asalan banget. Hiks...


Sekarang ini saya sering banget ngelihat ada seminar dan buku wirausaha, pembicaranya menaruh edifikasi bahwa ia adalah wirausaha super sukses dengan bla bla bla segudang. Tapi setelah dicek ternyata usahanya nggak ada, usahanya ya jualan itu aja. Satu hal yang ingin saya garis bawahi bukanlah persoalan menjual seminar dan bukunya karena itu SAH kok, melainkan JUJUR pada diri sendiri dan banyak orang. Kalau memang belom jadi wirausaha ya jangan ngaku ngaku wirausaha apalagi menaruh gelar sukses. Kalau memang profesinya pembicara / konsultan / coach / penulis ilmu wirausaha ya jujur saja bilang seperti itu. Sah banget. Toh Jose Mourinho bisa ngelatih tim sepakbola tanpa pernah menjadi pemain bola. Terpenting adalah belajar jujur dengan diri sendiri dan orang lain, kejujuran itu memang mahal. 


Lanjut, efek banyaknya seminar dan buku wirausaha juga membuat banyak anak muda yang makin semangat. Banyak yang jadi gila belajar ilmu wirausaha. Namun sering kali malah salah nangkep. Belajar ilmu wirausaha, mengidolakan si tokoh pemateri, ujung ujungnya malah bercita cita sekedar jadi pembicara atau penulis buku, bukan sebagai wirausaha sukses yang merintis karier di lapangan dari bawah. Sekarang ini juga banyak anak muda yang begitu mudahnya menaruh gelar CEO pada dirinya. Ngaku ngaku CEO, padahal usahanya masih sendirian, keberatan gelar namanya hehe. Saya pun menaruh gelar bahwa saya CEO Men's Republic, tapi bukan Chief Executive Officer melainkan Chief EVERYTHING Officer hehehe. Karena memang bisnis saya masih start up yang kecil dan bertumbuh, belum apa apa. Seiring bertambah dewasa malah saya semakin menghindari cap sukses, gelar CEO atau apapun karena takut keberatan. Tapi ya mudah mudahan jadi doa dan niat menuju kesana bersama Men's Republic.


Jadi...
Saran saya untuk pelaku industri ilmu wirausaha, mari sama sama mendidik generasi muda Indonesia dengan semangat wirausaha. Tapi dengan jujur tanpa tipu tipu. Sah sah saja mengajar dan berbayar, asal jujur


Saran saya untuk para wirausaha sejati...
Kebanyakan wirausaha itu ngga bisa sharing karena ngga punya skil komunikasi (public speaking) dan writing yang bagus, bahkan ada juga yang ngga mau sharing karena takut ilmunya ketahuan banyak orang dan diambil. Yuk mulai sharing dalam bentuk apapun, mau itu berbayar ataupun gratisan lewat media sosial. Karena masih banyak generasi muda yang membutuhkan ilmu ilmu wirausaha dari praktisi usaha. Saya mengharapkan banget para konglomerat Indonesia dan wirausaha suksessssss besar lainnya bikin seminar / workshop yang mahal sekalipun gapapa, supaya kita generasi muda bisa belajar dari praktisinya. Kalau nggak, demand kebutuhan ilmu wirausaha malah disupply oleh orang orang pragmatis yang hanya mencari uang untuk dirinya sendiri dengan tidak jujur pada banyak orang.


Saran saya untuk generasi muda yang tertarik dengan dunia wirausaha...
Pilih pilihlah dalam mengikuti sebuah seminar ataupun membeli buku wirausaha, cari tau backgroundnya, cari tau usahanya apa, cari tau apakah kira kira gaya pembelajarannya cocok dengan kita. Pahit memang, namun harus diakui bahwa tidak semua orang yang mengajar wirausaha adalah wirausaha yang sebenarnya. Kita harus pintar pintar memilih agar tidak salah belajar. Salah belajar, salah jalan, salah tujuan akhirnya salah hasil. Tapi, masih BANYAK kok yang memang wirausaha sejati lalu mengajar lewat media seminar atau pun buku. Mereka yang seperti ini wajib diikuti, dibayar karyanya mahal sekalipun karena berharga untuk dipelajari dalam bisnis kita.


Sekian pemikiran saya tentang dunia belajar wirausaha Indonesia saat ini.
Kalau ada yang tersinggung, mohon maaf yaaa. Terpenting, kita sama sama majukan dunia wirausaha pada generasi muda. Let's fighting together to spread the spirit of entreprneurship bro and sis!


Last but not least,
NEVER TOO YOUNG TO BECOME A BILLIONAIRE!


Yasa Singgih,

Chief EVERYTHING Officer Men's Republic
31 Maret 2016