Salah satu hal yang membuat hidup seseorang gitu gitu aja alias ngga berkembang adalah mental miskin.

Saya percaya bahwa kaya dan miskin bukanlah sebuah kondisi materi melainkan kondisi mental.

Orang yang hidup dalam mental kaya walaupun secara materi belum kaya pasti cepat lambat kaya materi akan mengikutinya. Karena mentalnya udah jadi. Sedangkan orang yang terlahir di keluarga cukup sekalipun, kalau mentalnya miskin pasti cepat lambat materi akan menjauhinya.


Apa yang dimaksud dengan mental miskin? Saya mengamati dan sedih melihat banyak orang dengan mental mental miskin seperti berikut :


Selalu ngeluh sama keadaan. Merasa semua yang terjadi pada dirinya akibat orang lain, akibat kebodohan pemerintah, akibat kecurangan orang lain, dll. Ketahuilah bahwa sukses dan gagalnya dirimu bukanlah tanggung jawab orang lain, melainkan 100% PASTI karena dirimu. Belajarlah untuk tidak mengeluh pada keadaan, belajarlah untuk menyalahkan diri sendiri & mencari solusi atas sebuah permasalahan. jangan kebanyakan debat & jangan kebanyakan protes. Cari solusi, buat aksi, ukir prestasi & bangun reputasi.


Ini yang saya paling geregetan. Maunya gratisan, dikit dikit cari yang gratisan terutama soal ilmu & apapun yang sebenernya bisa bikin kita berkembang. Setiap ada sesuatu selalu nanya, “Gratis apa bayar nih? Kalo gratis mau dong..”, “Ada versi gratisannya ngga?”, “Minta aja donggg yang murah..”. Percayalah orang seperti ini ngga akan pernah berkembang dalam hidupnya. Dari kecil saya diajarkan oleh orang tua untuk punya prinsip seperti ini, “Kalau dikasih, maka terima dan berterima kasihlah. Tapi kalau ngga dikasih, maka jangan pernah minta & mengemis sekalipun. Kalau mampu beli sendiri, maka beli sendiri jauh lebih baik”. Jangan pura pura “memiskinkan” diri sendiri jika sebenarnya kita mampu. Kaya itu soal mental. 


Jangan terbiasa tangan di bawah, jangan terbiasa ngarepin belas kasihan orang lain, jangan terbiasa ngarepin orang lain akan nolong kita.


Saya juga suka geregetan juga ketemu sama orang orang yang ngga punya niat belajar yang kuat. Pernah satu hari saya ngisi seminar di daerah Jakarta. Lalu ada yang komen gini, “Jangan bikin di Jakarta, di Depok dong…”. Dalem hati saya berpikir, “Seberapa jauh Depok Jakarta hingga mengurungkan niat belajarnya?” Ilmu itu dikejar. Rejeki emang ngga akan kemana mana tapi kalau kamu ngga kemana mana ya rejeki ngga akan pernah nyamperin juga. 


Saya jadi teringat tahun 2014, saya ikut sebuah training di luar negeri yang harganya sangat mahal. Saat itu saya punya 1001 alasan untuk tidak berangkat. Mulai dari keterbatasan bahasa, uang & saya peserta termuda (saat itu 19 tahun) disana. Cuma saya berpikir saat itu, “Suatu hal yang tidak nyaman adalah tanda kita akan bertumbuh. Dan ini tanda bahwa pantas diperjuangkan”. Alhasil saya berangkat kesana hanya untuk belajar.


Kalo dalam hidup ini kita cuma cari hal yang mudah, maka hanya hal hal sepele yang datang pada hidup kita. Tapi kalo dalam hidup ini kita berani untuk menantang diri mendapatkan hal yang besar, maka hal hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnyalah yang datang pada kita.


Jangan jadi mental tempe.

Kata itu soal mental.


Yasa Singgih

6 Juli 2016