Saya tidak terlalu mengikuti olahraga Badminton, tapi setiap ada kejuaraan saya lumayan mengikutinya. Apalagi menonton pertandingan pertandingan besar. Rivalitas Lee Cong Wei & Lin Dan sangat menarik untuk diikuti. Apalagi setelah di pertandingan terakhir Lee mengalahkan Lin, dan mungkin menjadi olimpiade terakhir bagi mereka berdua. Menarik menyimak cerita tentang mereka berdua. Dua orang legenda badminton di eranya.


Rasanya sayang sekali tidak membagikan cerita surat menyurat mereka berdua. Monggo teman teman simak ya, isi suratnya saya dapat dari website badmintalk.com. Baca surat mereka berdua, ada banyak pelajaran dari rivalitas mereka berdua. Rivalitas yang saling membunuh, namun juga saling menguatkan, membuat keduanya menjadi pemain yang berusaha lebih baik setiap harinya.
__________________________________________________
Berikut surat dari Lee Chong Wei ke Lin Dan
My brother, Lin Dan:

"Saya akan menggunakan bahasa Mandarin menulis surat ini deh ya. Walaupun kamu tahu bahasa Mandarinku untuk lisan lumayan bagus, tapi untuk tertulis tidak begitu bagus. Tapi, untuk kali ini saya harus menulis (dalam Mandarin) untuk menceritakan hal-hal tentang kita.
.
Pada tahun 2000, saya pertama kali bertemu denganmu, dan kita berfoto bersama. Saya masih ingat ketika itu kamu suka bercanda sok ganteng. Kamu yang menggunakan jas dan sepatu kulit saat itu lebih tinggi dari saya. Saat itu kita masih sangat muda, saya yang bermodel rambut belah tengah agak sedikit polos, sedangkan kamu justru wajah penuh kesan 'bad boy'. Sejujurnya, ketika itu saya tidak kepikiran bahwa kisah cerita diantara kita akan begitu panjang, dan begitu luar biasa.
.
Pada tahun 2004 bulan Februari, kita pertama kali bertanding melawan satu sama lain, dan saya kalah. Dalam satu tahun kemudian sejak itu, kita bertemu di lapangan sebanyak delapan kali dan saya hanya menang dua kali. Melihat kamu yang begitu bersemangat, saya berpikir, sudah dipastikan, ke depannya akan berebutan gelar juara denganmu. Hanya saja, ketika itu Taufik Hidayat masih ada di depanku, dan juga Peter Gade juga sering menjadi batu sandungan.  

Kamu menahan satu hembusan nafas, saya juga menahan satu hembusan nafas.

Saya tahu kamu berlatih dengan sangat keras seperti mempertaruhkan nyawa, ya kalau begitu saya akan lebih kerja keras sedikit dari kamu. Kamu sehari berlatih 10 jam, ya saya akan berlatih lebih dari 10 jam sehari. Setiap kali saat saya merasa sedikit malas, ingin berhenti sejenak, di dalam pikiranku penuh dengan bayanganmu. Tidak bisa menang darimu, apa masih layak disebut 'Raja'?

Pada akhirnya, pada suatu hari, saya akan menaiki puncak gunung tertinggi milikku, melihat jauh ke depan, di deretan pegunungan di depan mataku hanya terlihat bukitmu (dirimu). Saya mengira saya telah mempersiapkan diri dengan baik, saya ingin membuktikan diri sendiri dengan gelar Juara. Dan cara pembuktian diri sendiri hanya ada satu, yaitu menarikmu turun dari atas (mengalahkanmu).

Hanya saja, kenyataaan memang begitu kejam. Olimpiade Beijing 2008, kamu bermain luar biasa, saya malah tidak fokus. Kejuaraan Dunia 2011, kamu telah mendapatkan semua kehormatan, saya yang peringkat satu dunia malahan justru harus menerima sebutan palsu 'number one' itu. Saya masih saja kalah, kamu membunuhku di titik akhir.

Olimpiade London satu tahun setelah itu, saat saya melihatmu berlari mengacir dan membuang raket, tahukah kamu betapa kebingungannya diriku? Saya tidak ingin berdiri, karena hasil seperti ini terlalu berat untuk kupikul, dan juga terlalu menyiksa.Dalam empat tahun tersebut, tidak ada sedetik pun saya tidak sedang berpikir bagaimana caranya untuk mengalahkanmu, tapi akhir cerita masih tetap saja sama-Medali Perak. Saya punya terlalu banyak Medali Perak, kamu punya terlalu banyak Medali Emas. Saya ingin punya Medali Emas. Medali Emas kejuaraan besar, satu keping saja sudah cukup.

Lalu saya teruskan berlatih dengan sangat keras dengan mempertaruhkan nyawa. Saya tidak tahu berapa pasang sepatu yang telah robek, berapa raket yang patah. Di dalam gedung latihan saya tidak mengenal pagi hari atau malam hari, yang terus berputar-putar tak mau pergi di dalam pikiranku hanyalah namamu. Ada saatnya saya mendesah diri sendiri terlalu sial, kenapa harus bertemu seorang pemain berbakat seperti kamu. Kalau bukan karena kamu, mungkin sepuluh tahun lalu dunia bulutangkis sudah adalah milikku. Hanya disayangkan kebesaranmu sudah menjadi sebuah fakta, hanya dengan mengalahkanmu barulah saya bisa mendapatkan barang yang saya inginkan.

Hanya saja, ketika itu kita kadang-kadang saling kontak ngobrol-ngobrol. Saya tahu peribahasa 'Jutaan Harta mudah didapatkan, Memahami diri sendiri lah yang lebih sulit'. Saya ingin menjadi temanmu selamanya, hanya saja itu di luar lapangan. Di dalam hatiku, saya masih saja ada satu hal yang membelenggu, saya ingin gelar Juara itu. Kejuaraan Dunia tahun 2013, masih tetap saja akhir cerita yang sama. Ketika kamu berlari mendekatiku menanyakan kondisiku, saya meraba lututmu, di dalam hatiku sangat campur aduk. Ya, benar, Lin Dan, kamu adalah lawan yang hebat, juga adalah teman yang terbaik.

Setelah itu, saya sudah tua, kamu juga tidak muda lagi. Muncul banyak pemain muda berumur 20 tahunan menantang kebesaran kita. Saya kadang kalah dari mereka, tapi lawan sejati yang ada di dalam hatiku hanya kamu seorang. Hanya dengan mengalahkanmu, saya merasa ada makna jika saya mendapatkan gelar Juara. Wartawan selalu saja menyebut kita 'Lin Lee Great Battle', selalu saja menanyai saya apakah akan masih ada pertandingan seperti ini lagi. Sejujurnya saja, saya tidak tahu, saya hanya sangat menantikan itu. Pemain veteran, main sekali melawanmu berarti berkurang sekali (kesempatan bertanding melawanmu).

Kemarin, pada akhirnya saya menang darimu. Saya sangat gembira sangat gembira. Bukan karena saya takut tidak menang medali emas, tapi saya terlalu ingin menang darimu. Setiap orang ingin menjadi seorang ksatria, mengalahkanmu adalah momen yang paling saya banggakan. Ketika bertukaran jersey dan berpelukan denganmu, melihat bekas luka dan perban di badan kita berdua, saya teringat lagi saat pertama mengenalmu. Jika waktu bisa diputar ulang, begitu indahnya. Tapi kisah cerita seperti ini, sudah cukup untukku mengingatnya selamanya.

Jika bukan karena bertemu kamu, perjuangan akan menjadi betapa membosankan, kerja keras akan menjadi betapa disayangkan?

Brother, final pada tahun ini akhirnya kamu tidak perlu bermain. Kalau begitu, berikan tepuk tanganmu untukku, boleh tidak?"
- Lee Chong Wei

_____________________________________________________

Dan berikut surat dari Lin Dan ke Lee Chong Wei
My brother, Chong Wei:

"Kemarin saat melihatmu melempar raket, berteriak sambil melompat di udara, aku sungguh ikut gembira.

Kita berdua kenal seharusnya sudah 16 tahun ya. Ketika itu ada Taufik Hidayat, ada Peter Gade, dan kita berdua tidak cukup menonjol. Pertandingan kita yang pertama, saya yang menang, tapi tidak pernah terpikirkan oleh kita berdua bahwa kita akan bertanding begitu banyak kali bertahun-tahun ini.

Kita saling mengalahkan. Tentu saja, izinkan saya untuk sedikit membanggakan diri, tetap saya yang menang lebih banyak. Tapi saya tidak ingin membahas prestasi yang bagaimana-bagaimana, karena saya dan kamu sejak dulu sudah tidak bisa dinilai dari prestasi. Ada orang yang memanggilku 'Super Dan', dan ada orang yang bersedih denganmu karena 'hoki' mu selalu saja lebih jelek sedikit di turnamen-turnamen besar yang mana aku selalu menang darimu.

Tetap saja berterima kasih kepadamu. Di dalam namaku, selain ada 'full-house' dan juara-juara itu, masih ada sebutan "Lin Lee Great Battle" (Lin Dan vs Lee Chong Wei) yang penuh kehangatan. Kita juga bisa sama seperti Christiano Ronaldo dan Messi, Larry Bird dan Magic Johnson, Roger Federer dan Rafael Nadal, yang melegenda karena keberadaan satu sama lain.

Karena ada kamu, baru ada saya yang lebih baik.

Beginilah, kita sudah menjadi pemain veteran. Yang muda-muda semakin banyak bermunculan. Saya kadang chat denganmu ngobrol, bahas pemain-pemain muda ini. Mereka tidak 'boleh' la, begitu banyak pemain kuat yang memperebutkan tahta. Tidak seperti kita ketika itu, hanya ada kita berdua. Sejujurnya, terasa kesepian juga, tapi setiap kali bertanding denganmu selalu membuatku memberikan semua yang aku punya.

Pada akhirnya, tibalah kita di Rio, Olimpiade keempat. Di perempatfinal, saya melawan pemain muda India itu cukup penuh perjuangan, tapi saya sukses melaluinya. Saat saya hampir menyerah, saya mengingat janji 'ngopi' denganmu, janji 'ngopi di semifinal.

Pertemuan yang ke-37, sudah berjarak satu putaran (12 tahun) sejak pertemuan pertama kita. Sesungguhnya, ketika poin terakhir saya terpeleset dan kalah darimu, dalam diri saya tidak ada penyesalan. Kamu adalah lawanku yang terhebat. Saya bersedia kalah darimu dan tidak menyesal. Saat memelukmu, saya sungguh merasa puluhan tahun yang kita lalui bersama ini seperti hanya mimpi saja.

Saya akan memegang jerseymu dan memberitahukan kepada anakku kelak. Ada seorang paman yang bernama Lee Chong Wei, adalah lawan terhebat ayah, juga adalah teman terbaik ayah.

Di saat masa keemasanku bertemu dirimu adalah keberuntunganku. Jia you (Semangat) di Final."
- Lin Dan

Sayang sekali, di Final Olimpiade Rio 2016 kemarin Lee Chong Wei kalah oleh rekan Lin Dan dari China yaitu Chen Long. Mungkin kesempatan Lee mendapatkan emas dalam kariernya di Olimpiade sudah habis. Namun kisah rivalitas Lee dan Lin akan selalu dikenang oleh dunia, layaknya Ronaldo & Messi. Hal penting yang dapat kita pelajari dari rivalitas Lee dan Lin, bahwa keberadaan seorang rival penting sangat penting bagi pertumbuhan pribadi kita menuju yang lebih baik setiap hari. Your best rival is your "best friend".

Yasa Singgih
23 Agustus 2016