Hari Minggu, 6 Desember 2015 kemarin saya jam 4 pagi sudah harus bangun karena jam 5 harus berangkat ke bandara mengejar flight jam 6 pagi ke Surabaya untuk mengisi acara JNE E-Commerce Week.

Dikarenakan hari Senin sudah ada acara lagi di Jakarta, saya di Surabaya hanya sampai jam 4 sore dan harus langsung menuju Bandara Juanda Surabaya untuk balik ke Jakarta. Semua berjalan dengan lancar, peserta sangat antusias, saya pun sebagai pemateri ikutan semangat. Jadi acara kemarin adalah workshop yang diadakan oleh JNE Surabaya secara gratis untuk membantu pelaku online shop yang juga klien JNE. Win win solution, JNE bantu kasih ilmu maka omset online shop menambah maka kirimannya ke JNE juga menambah hehehe.

Semua berjalan lancar, sampai pesawat saya akan mendarat ke Bandara Soekarno Hatta timbul satu hal yang mengganggu saya. Tepat di belakang bangku saya di pesawat ada keluarga kecil (Ayah, Ibu, Balita sekitar 2 tahun & susternya). Selama di pesawat saya tidur sangat lelap karena sangat lelah seharian, tiba tiba saya terbangun karena si balita menangis sangat keras. Bener bener keras banget, sampai teriak teriak, batuk, keselek dan LAMAAAAA banget. Nangisnya si balita ini sampai pesawat berhenti mendarat dan penumpang turun masi menangis, mungkin kurang lebih ada 20 menit. Bener bener mengganggu banget.

Saya sampai terbangun, saya tengok kiri kanan ini suara dari mana kenceng banget. Ternyata persis di belakang saya. Sebelah kanan saya terlihat mulai terganggu dengan suara tangisan bayi, sebelah kiri saya Ibu-ibu berbicara ke Ibu anak yang menangis, "Bu, anaknya kasih minum. Itu pasti kupingnya sakit mendengung"

Beberapa orang saya lihat sangat terganggu, ada yang mulai tengok kiri kanan dan lain lain. Di satu sisi saya kesel, marah, tidur terganggu. Ini anak baweell banget sih. Tapi mau didiemin juga gimana, masih bayi ngga bisa dibilangin. Saya lihat kedua orang tua anak ini pun panik, mungkin karena ngga enak si anak sangat mengganggu. Sang Ibu tidak henti hentinya menggendong sambil menggoyang-goyangkan anak, sang ayah pun mencoba menghibur. Entah apa alasan anak ini menangis.

Emosi karena mengantuk saya akhirnya reda dengan cepat setelah saya tiba tiba teringat dengan salah satu cerita yang ada di buku 7 Habits nya Stephen Covey.
Diceritakan suatu hari ada seorang anak mengamuk di airport, menangis sambil meronta ronta. Namun sang ayah anak itu hanya duduk diam termenung melihat anaknya yang sedang mengamuk.
Ada seorang laki laki di airport itu terganggu dengan tingkah anak ini yang menyebalkan, dan ia lebih kesal lagi dengan ayah si anak yang hanya diam. Akhirnya laki laki ini menghampir sang ayah dan berkata, "Maaf Pak, kenapa bapak tidak mendiamkan anak ini?"
Dengan tenang si ayah ini berkata, "Maaf Pak apabila anak ini mengganggu, anak ini baru saja kehilangan Ibu nya beberapa hari yang lalu". Sontak laki laki yang kesal dengan ayah dan anaknya ini berubah perasaan menjad empati. Dalam hatinya bergumam, "Luar biasa Ayah ini, ditinggal sang istri namun tetap bisa tenang"
Kurang lebih begitu ceritanya.

Saya pun jadi ngeuh alias sadar dengan apa yang mengganggu saya. Gimana kalo saya yang jadi orang tua anak ini? Pasti saya panik.... Gimana rasanya kalau ada yang menegor saya karena kesal anak saya nangis terus? Padahal saya sudah berusaha menenangkannya. Saya berusaha berempati, merasakan gimana rasanya apabila saya yang berada di posisi orang tua yang anaknya menangis keras di belakang saya ini. Saya pun sadar, tidak sepantasnya saya kesal, orang tua ini pun sudah berusaha keras menenangkan sang anak.

Mari kita berusaha berempati. Daripada mengumpat, lebih baik merasakan, "Gimana kalau saya yang berada di posisi dia?"

7 Desember 2015
Yasa Singgih