Sering kali emosi mengalahkan logika dalam berbisnis. Mulai dari rasa ngga enakkan sama partner atau karyawan, suka kebawa2 masalah pribadi ke bisnis dan bisnis ke pribadi, yang akhirnya bisnis bukannya menjadi pembuka pintu pertemanan malah menjadi pembuka pintu permusuhan. Masalahnya satu, menggunakan emosi yang berlebihan.


Dalam kasus kasus seperti berpartner dengan saudara atau teman atau bahkan pacar sekalipun. Harus jelas ngomong pahitnya dulu di depan. Jangan pake prinsip "Cincay dah nanti aja diomongin" atau lebih parah "Kalau udah untung baru kita bicarain!". 


Dari awal udah harus jelas bagi hasilnya berapa, job descnya gimana, kalau suatu saat pecah kongsi gimana, merknya jadi hak milik siapa, stok barangnya gimana, kalau gagal sebelum untung gimana, dll. Lebih baik ngomong pahit di depan tapi lebih aman ke depannya daripada sengsara nantinya. Daripada manis di depan tau tau kena tipu.. Sakit..


"Wah kejam banget masa udah ngomongin gitu di depan, masa belom apa apa udah ngomongin kalo bubar"
Bukan masalah kejam, ini bisnis. Bukan main main. Tinggalkan emosi kita dalam bisnis. Saya punya seorang teman yang berpartner bisnis sama pacarnya, awalnya nikmaaatttttt.. Namun saat mereka berantem masalah pribadi akhirnya kebawa sampai ke urusan bisnis. Alhasil bisnisnya pecah kongsi, rebutan hak milik merk, rebutan hak milik akun socmed, dll. Karena dari awal ngga jelas. Pastikan ada hitam diatas putihnya, kita berbisnis dengan manusia, makhluk yang sangat mudah berubah-ubah terutama dengan godaan. Digoda sedikit bisa goyang.


Mungkin pas masih untung 1 juta, mudah bagi hasilnya : gope gope. Tapi pas untungnya udah 1 Miliar, yakin mudah bagi hasilnya? Pasti akan timbul rasa kesel, "Huff harusnya gw yang dapet lebih banyak, harusnya dia dikit kan ga kerja.." nah loh?! Maka harus jelas semuanya dari AWAL. Bukan tega, tapi TEGAS.


Kalau memang merasa sudah tidak cocok, ya ngomong baik baik. Kalo mentok, ya PUTUSKAN. Sedekat apapun hubungan kita dengan dia. Ngga perlu ga enakkan, ngomong blak blakkan dengan penuh santun tanpa marah marah. Inget ya, jangan sampai bisnis membuat hubungan pertemanan hancur. Terpenting adalah pegang prinsip, "Mulai dengan salaman, berakhir dengan pelukkan"


Begitu juga saat berhubungan dengan karyawan. Bulan lalu saya baru saja mengucapkan salam perpisahan kepada satu tim Men's Republic, Bang Amier. Beliau adalah orang yang pertama kali masuk ke dalam tim Men's Republic. Saksi hidup Men's Republic dari 4 lusin sepatu hingga ribuan sepatu perbulan. Dari dulu pusing mikirin gimana cari orderan sampai pusing mikiring gimana packing orderan yang kebanyakan. Kami sangat secaraa pribadi sangat dekat. Namun karena satu dan lain hal kami menemukan ketidak cocokkan dalam ritme bekerja, akhirnya saya dengan Bang Amier berbicara berdua dari hati ke hati dan memutuskan untuk tidak bersama sama lagi di Men's Republic. Saya tetap menjungjung tinggi profesionalitas dalam bekerja. Saat hari terakhir Bang Amier bekerja, kami semua tim Men's Republic makan Pizza bersama dan mengucapkan salam perpisahan dengan penuh haru. Saya pun memberikan kenang kenangan sepasang sepatu Men's Republic. Bagaimanapun Bang Amier adalah saksi sejarah berdirinya Men's Republic. Kami memulainya dengan salaman dan mengakhirinya dengan pelukan. No hard feelings. Sampai sekarang hubungan kami pun baik baik saja. Tengs bro!


So, teman teman. Jangan sampai berbisnis dengan modal kasihan, ngga enakkan, marah marah, tarik urat atau sampai gebuk gebukkan. Ngga cocok di bisnis toh bukan berarti ga cocok jadi teman ngopi kan?! Santai aja, tinggalkan emosi kita dalam berbisnis. Ada benarnya juga pepatah yang mengatakan, "Bisnis ya bisnis". Bukan berarti bisnis tidak menggunakan hati, namun berbisnislah dengan pikiran jernih. Saat kita sedang emosi sering kali kita tidak mengambil keputusan terbaik.


No matter how hard the situation, never let your emotions control your intelligence. - Warren Buffet


Yasa Singgih
19 Februari 2016